Pembekalan P3M H-2: Membaca Teks Kota Bandung di Kawasan Braga dan Banceuy

Fakultas Filsafat, Bandung – Sebanyak 14 orang, yang terdiri dari 12 mahasiswa peserta Program Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M), menggelar diskusi reflektif di Taman Balai Kota Bandung. Kegiatan observasi lapangan dan pembacaan ruang kota di kawasan bersejarah Braga, Banceuy, dan Asia Afrika ini merupakan tindak lanjut dari Pembekalan Peserta P3M. Dalam kegiatan lapangan ini, para mahasiswa didampingi langsung oleh Yustinus Ardhitya, S.T., M.Sn. dan Dr. Yusuf Siswantara, S.S., M.Hum., dosen Fakultas Filsafat UNPAR yang mengampu mata kuliah Logika, Etika, Fenomenologi, dan Agama. Melalui kacamata filsafat sosial, para mahasiswa membedah realitas urban yang penuh dengan kontradiksi, memori sejarah, dan dinamika survival masyarakat marginal.

Dualitas Ruang dan Kesenjangan yang Tersembunyi

Dalam sesi berbagi, para mahasiswa menyoroti kontras tajam yang terjadi di jantung kota Bandung. “Di depan Braga tampak indah dan memukau, namun di bagian belakang, kawasan tersebut tampak kusam dan tidak rapi,” ungkap salah satu mahasiswa. Fenomena ini diperkuat oleh pengamatan Frater Prima mengenai adanya kesenjangan sosial dan fisik lingkungan yang mencolok. Di kawasan Braga dan Asia Afrika, terdapat dikotomi antara para “penikmat” (wisatawan/pelancong) dan “penjaja” (pekerja informal, tukang foto, cosplayer).

Bangunan warisan (heritage) dijaga dengan ketat sebagai estetika kota, sementara permukiman kumuh di sekitarnya seolah luput dari perhatian. Lebih jauh lagi, teramati adanya stigma sosial di mana orang sering kali dinilai semata-mata dari penampilannya. Realitas ini menjadi catatan kritis bagi mahasiswa filsafat tentang bagaimana ruang kota tidak hanya memisahkan kelas sosial, tetapi juga melanggengkan penilaian yang dangkal terhadap martabat manusia.

Memori Sejarah yang Terkomodifikasi dan Jiwa yang Merdeka

Pengamatan juga diarahkan pada Penjara Banceuy, situs bersejarah yang nasibnya sempat terancam hilang pada zaman Orde Baru, namun kini direhabilitasi kembali sebagai cagar sejarah bangsa. Mahasiswa mengkritisi cara wisata kota mengemas sejarah: kendaraan wisata “Bandros” hanya menyampaikan informasi permukaan tentang penjara tanpa memberikan ruang bagi wisatawan untuk turun dan meresapi secara langsung sel tempat Soekarno ditahan.

Namun, di balik sempitnya ruang sel penjara tersebut, tersimpan sebuah refleksi filosofis yang mendalam. Ruang yang secara fisik membatasi itu justru menjadi tempat Soekarno menyusun pleidoi monumentalnya, Indonesia Menggugat. Hal ini menyadarkan para mahasiswa bahwa meskipun raga dapat dipenjara dalam ruang yang sempit, jiwa dan pemikiran yang bebas akan tetap mengembara dan melahirkan gagasan yang mengguncang zaman.

Trotoar: Ruang Hidup, Ekosistem Ekonomi, dan Tanda Peradaban

Eksplorasi berlanjut ke Gang Affandi, kawasan yang telah ada sejak 1905. Semakin ditelusuri, suasana gang ini semakin senyap dan bernuansa kampung di tengah hiruk-pikuk kota. Sementara itu, dinamika transaksional yang hidup teramati dalam relasionalitas antara Braga dan Pasar Cikapundung, serta deretan toko elektronik di Banceuy yang jauh lebih ramai. Dinamika keramaian antarwilayah ini menunjukkan bagaimana kota bekerja sebagai sebuah jaringan ekonomi yang saling menopang.

Salah satu temuan paling menarik adalah pergeseran fungsi trotoar. Trotoar tidak lagi sekadar jalur pejalan kaki, melainkan telah bertransformasi menjadi “ruang hidup”—tempat berjualan, tidur, dan parkir liar. Bagi para pedagang dan juru parkir, trotoar adalah sumber kehidupan. Di sisi lain, keberadaan mereka secara tidak langsung “membantu” para pekerja dan karyawan sekitar yang membutuhkan akses cepat terhadap makanan dan keperluan sehari-hari.

Di tengah dinamika tersebut, mahasiswa juga mencatat detail infrastruktur yang bermakna filosofis. Masuk ke area Braga 8, keberadaan copy shop dan toilet umum yang bersih diapresiasi sebagai “tanda peradaban” dan pemenuhan hak dasar warga kota. Selain itu, perhatian juga tertuju pada bollard (bola-bola beton pembatas trotoar), yang tidak hanya berfungsi sebagai penjaga ruang pejalan kaki dari serobotan kendaraan, tetapi juga menjadi elemen estetika kota.

Filsafat yang Turun ke Jalan

Persiapan Kegiatan P3M ini mengingatkan bahwa kota adalah sebuah “teks” yang harus dibaca secara kritis. Bagi Fakultas Filsafat UNPAR, turun ke jalan dan berdiskusi di ruang publik seperti Taman Balai Kota merupakan wujud nyata dari komitmen untuk menghadirkan filsafat yang membumi. Membaca Braga, Banceuy, dan Asia Afrika bukan sekadar kegiatan urban walking, melainkan sebuah anamnesis sosial untuk memahami determinan struktural, sejarah, dan kemanusiaan yang membentuk wajah kota Bandung hari ini.

Melalui refleksi ini, kepada para peserta, diharapkan lahir kepekaan kolektif untuk merumuskan ruang kota yang lebih inklusif, adil, dan memanusiakan setiap elemen masyarakat yang hidup dan mencari penghidupan di dalamnya. (ICS – Yusuf S)