P3M Pagerwangi: FGD Bersama Kader PKK Desa

FAKULTAS FILSAFAT, 2026 – Mahasiswa peserta Program Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (P3M) Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), Dyonisius Maurino Gunarto, Josep Aldo Setiawan, Stefanus Elkana Soget, dan Aloysius Dani Christianto, menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama sembilan kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Pagerwangi, Jumat (7/8/2026), di Balai Desa Pagerwangi. Kegiatan ini menjadi bagian dari proses mahasiswa untuk memahami persoalan desa sekaligus mengonfirmasi temuan lapangan melalui pengalaman langsung warga.

FGD diawali dengan perkenalan mahasiswa kepada para kader PKK. Setelah itu, mahasiswa mempresentasikan berbagai persoalan yang mereka temukan selama melakukan pengamatan di lapangan. Sejumlah persoalan yang diangkat antara lain masalah sampah, ketersediaan air, kondisi jalan yang rusak, serta potensi longsor.

Temuan tersebut kemudian dikonfirmasikan kepada para kader PKK. Para kader membenarkan bahwa persoalan-persoalan tersebut merupakan masalah konkret yang dihadapi masyarakat Desa Pagerwangi. Konfirmasi ini menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran mahasiswa karena temuan hasil observasi tidak berhenti sebagai data, tetapi diuji melalui pengalaman dan pengetahuan masyarakat setempat.

Dalam diskusi, para kader PKK juga menyampaikan sejumlah kemungkinan solusi jangka pendek, terutama berkaitan dengan persoalan sampah. Beberapa gagasan yang muncul antara lain pembentukan bank sampah dan peningkatan kebiasaan memilah sampah. Para kader juga membicarakan berbagai cara penanganan sampah yang selama ini dikenal dan dilakukan masyarakat.

Mahasiswa Belajar Membaca Persoalan dari Pengalaman Warga

Bagi mahasiswa P3M, FGD ini menjadi ruang untuk belajar bahwa memahami persoalan masyarakat tidak cukup dilakukan hanya melalui pengamatan dari luar. Temuan lapangan perlu dikomunikasikan kembali kepada warga agar memperoleh konfirmasi, koreksi, dan pemahaman yang lebih sesuai dengan kenyataan kehidupan sehari-hari. Keterlibatan sembilan kader PKK, di sisi lain, juga memperlihatkan pentingnya pengetahuan warga dalam membaca persoalan desa. Melalui dialog tersebut, mahasiswa tidak hanya menyampaikan hasil pengamatan, tetapi juga mendengarkan pengalaman perempuan yang terlibat langsung dalam kehidupan sosial masyarakat.

FGD ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran bersama mengenai berbagai persoalan yang dihadapi Desa Pagerwangi. Bagi mahasiswa, proses tersebut menjadi pengalaman untuk mengembangkan kemampuan melihat masalah secara lebih konkret, sementara bagi masyarakat, diskusi menjadi ruang untuk kembali mengenali dan membicarakan persoalan yang hadir di lingkungan mereka.

Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa P3M bukan sekadar kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat. Lebih dari itu, P3M menjadi ruang perjumpaan antara pengetahuan akademik dan pengalaman warga, sehingga proses belajar dapat berlangsung secara dialogis dan bertolak dari realitas kehidupan masyarakat (ICS – Yusuf S)