P3M 2026: Dosen Fakultas Filsafat Tekankan Pentingnya Koordinasi dan Etika Sosial


FAKULTAS FILSAFAT, 2026 – Sebagai bentuk persiapan matang sebelum terjun ke lapangan, kegiatan pembekalan teknis bagi para peserta program pengabdian masyarakat telah diselenggarakan di Paroki Lembang. Acara ini bertujuan untuk memberikan panduan komprehensif terkait kondisi lapangan, etika sosial, serta teknis pelaksanaan kegiatan di tiga desa sasaran.

Dalam pemaparannya, Yustinus Ardhitya, S.T., M.Sn., dosen Fakultas Filsafat UNPAR yang akrab disapa Mas Ardhit, menyampaikan gambaran mengenai kondisi terkini dari ketiga desa tersebut. Beliau memaparkan rincian kesepakatan akomodasi serta pemetaan kebutuhan konsumsi para peserta selama masa pengabdian. Mas Ardhit juga menjabarkan teknis acara pada hari pertama kedatangan, yang berfokus pada proses serah terima peserta kepada pihak desa, penyelesaian urusan akomodasi, serta pemenuhan kebutuhan dasar. Menyongsong hari kedua, beliau menyarankan agar peserta segera berkoordinasi secara intensif dengan perangkat desa dan warga setempat guna menyelaraskan informasi dan menyusun agenda kerja yang efektif.

Sesi pembekalan ini berlangsung interaktif dengan adanya tanya jawab antara peserta dan tim pembimbing. Salah satu peserta, Edo, mengajukan pertanyaan terkait ketersediaan contact person atau narahubung di tingkat warga. Menanggapi hal tersebut, tim menjelaskan bahwa telah disiapkan kontak penghubung khusus dari pihak desa yang akan memfasilitasi komunikasi antara peserta dan warga.

Di sisi lain, Salomo Marbun, pendamping dari Caritas Keuskupan bandung yang akrab disapa Mas Salomo, memberikan penekanan khusus terkait sikap dan etika mahasiswa selama tinggal di lokasi pengabdian. Beliau mengingatkan para peserta untuk tidak bermalas-malasan (mager) dan tidak asyik dengan kelompoknya sendiri. Lebih lanjut, Mas Salomo melarang peserta untuk sembarangan mengundang orang luar atau teman ke lokasi pengabdian, serta meminta mereka untuk senantiasa menjaga privasi warga. “Lebih kenalkan diri kepada warga, terutama kepada aparatur desa, khususnya RT dan RW,” pesannya kepada para peserta.

Menjelang akhir sesi, muncul pertanyaan praktis terkait anggaran logistik, yakni apakah uang konsumsi harian sebesar 75 ribu rupiah dapat dinegosiasikan. Tim pembekalan menjawab bahwa hal tersebut sangat memungkinkan. Peserta dipersilakan untuk bernegosiasi secara langsung terkait menu makanan, penyesuaian nominal, dan pengaturan lainnya dengan pihak penyedia akomodasi demi menyesuaikan dengan kondisi keuangan dan kebutuhan riil di lapangan.

Melalui pembekalan teknis ini, Fakultas Filsafat UNPAR berharap para peserta tidak hanya siap secara manajerial, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan etika yang tinggi dalam berinteraksi dengan masyarakat, sehingga program pengabdian ini dapat membawa dampak positif yang berkelanjutan bagi warga desa. (ICS – Yusuf S)