P3M Cikahuripan: Menggali Pengalaman Relawan Bencana di Desa

FAKULTAS FILSAFAT, 2026 – Peserta Program Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (P3M) Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) di Desa Cikahuripan melakukan pertemuan dan diskusi bersama Ibu Nia, Ibu Ai, dan sejumlah relawan bencana Desa Cikahuripan. Kegiatan berlangsung pada Jumat, 7 Agustus 2026, bertempat di Posyandu Desa Cikahuripan.

Kegiatan ini diikuti oleh lima mahasiswa P3M, yakni Yohanes David Putra Bria, Albertus Dimas Christanto, Julianus Eduardus Martin Leta, Aditia Hutajulu, dan Bagas Aryo Sadewo. Pertemuan diawali dengan perkenalan serta penjelasan mengenai tujuan penelitian yang sedang dilakukan oleh mahasiswa.

Belajar dari Pengalaman Relawan Bencana

Dalam diskusi, mahasiswa menggali pengalaman Ibu Nia, Ibu Ai, dan para relawan lainnya dalam menghadapi berbagai situasi kebencanaan, terutama bencana longsor. Para relawan tidak hanya berperan sebagai warga yang membantu ketika bencana terjadi, tetapi juga memiliki peran dalam struktur kehidupan masyarakat desa, seperti PKK, ketua RT, ketua RW, maupun perangkat desa lainnya.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan masyarakat dalam penanggulangan bencana berlangsung secara langsung dan beragam. Para relawan tidak hanya ditempatkan di dapur umum, tetapi juga terlibat dalam proses pencarian dan evakuasi ketika terjadi bencana.

Destana dan Kesiapsiagaan Masyarakat

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam diskusi adalah keberadaan Desa Tangguh Bencana (Destana) di Desa Cikahuripan. Berdasarkan pengalaman yang disampaikan dalam pertemuan, Destana di Desa Cikahuripan telah berjalan secara optimal.

Bagi mahasiswa P3M, pengalaman para relawan menjadi sumber pembelajaran penting untuk memahami bagaimana masyarakat membangun kesiapsiagaan dan merespons bencana berdasarkan pengalaman langsung. Perjumpaan dengan warga juga membantu mahasiswa melihat kebencanaan bukan semata-mata sebagai persoalan teknis, tetapi sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat.

Pertemuan kemudian ditutup dengan MBG dalam suasana kebersamaan. Melalui dialog tersebut, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk belajar langsung dari masyarakat sekaligus memahami pengalaman dan praktik lokal dalam membangun ketangguhan menghadapi bencana.

(ICS – Yusuf S)