Fakultas Filsafat, 2026 – Program Kelas Sore Filsafat kembali menggelar diskusi publik dengan tema “Menguak Makna Realitas dalam Perumpamaan Gua Plato”. Kegiatan yang merupakan bagian dari seri Serambi Filsafat ini menghadirkan Andreas Doweng Bolo, S.S., M.Hum., dosen Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), sebagai pembicara utama. Kehadiran beliau dalam forum ini merefleksikan kontribusi nyata tenaga pendidik Fakultas Filsafat UNPAR dalam membuka ruang dialog filsafat yang inklusif bagi akademisi, mahasiswa, dan masyarakat umum. Melalui kolaborasi dengan sejumlah mitra—Yayasan Cerita Langit Inspirasi, Bandung Bergerak, dan Perpustakaan Bunga di Tembok—diskusi ini berupaya menjadikan pemikiran filsafat lebih dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari.

Acara dipandu Kang Ojel. Hadir dalam kesempatan ini Deputi Dekan Fakultas Filsafat UNPAR, Dr. Rudi Setiawan, S.Ag., M.M., serta KH. Wahyul Afif Al-Ghafiqi yang akrab disapa Kiai Mako, pria kelahiran 24 Mei 1980 di Nganjuk, yang telah menjadi aktivis sosial-keagamaan sejak duduk di bangku kuliah, dimana salah satunya pernah menjabat sebagai Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bandung, kini masih memimpin Taman Belajar Al-Afifiyah dan Ketua Yayasan Cerita Langit Inspirasi serta aktif dalam Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kota Bandung. Turut hadir pula dosen Fakultas Filsafat UNPAR, yakni Dr. Silvester Kanisius Laku, S.S., M.Pd., yang memiliki fokus kajian pada filsafat sosial-politik, studi agama, dan budaya, serta Dr. Yusuf Siswantara, S.S., M.Hum., yang mengajar mata kuliah Logika, Etika, Fenomenologi, dan Agama. Keikutsertaan para akademisi ini semakin memperkaya kedalaman diskusi dan memperkuat jejaring keilmuan filsafat di tingkat publik.



Menggali Relevansi Alegori Plato di Era Kontemporer
Dalam sesi diskusi, Andreas Doweng Bolo mengajak peserta untuk menelusuri kembali alegori gua Plato —sebuah metafora klasik tentang manusia yang terbelenggu dalam kegelapan, hanya menyaksikan bayang-bayang realitas. Ia menekankan bahwa perumpamaan ini tidak hanya sebuah cermin, tetapi cermin dan pemikiran kritis untuk memahami dinamika informasi, hoaks, dan ilusi digital yang mewarnai kehidupan masa kini. “Pertanyaan mendasarnya: apakah kita sudah keluar dari ‘gua’ kita sendiri, atau justru terlena dengan bayang-bayang yang kita anggap sebagai kebenaran?” ujarnya dalam pemaparan yang memicu refleksi mendalam.
Komitmen pada Filsafat yang Mengakar dan Membuka Dialog
Andreas Doweng Bolo, S.S., M.Hum., merupakan dosen tetap Fakultas Filsafat UNPAR dengan minat kajian pada filsafat, pemikiran kebangsaaan, dan khususnya Pancasila sebagai kajian filsafat politik. Dalam berbagai forum akademik, ia konsisten mendorong pendekatan filsafat yang tidak hanya tekstual, tetapi juga kontekstual—mampu berdialog dengan realitas sosial, budaya, dan spiritual masyarakat Indonesia. Kepakarannya dalam pemikiran filosofis menjadi fondasi kuat dalam membimbing peserta diskusi untuk menghubungkan teori dengan pengalaman hidup sehari-hari.
Kolaborasi Lintas Lembaga: Memperluas Jangkauan Filsafat untuk Publik
Kegiatan ini terselenggara berkat kemitraan strategis antara Fakultas Filsafat UNPAR dengan sejumlah mitra inspiratif: Yayasan Cerita Langit Inspirasi, Bandung Bergerak, dan Perpustakaan Bunga di Tembok. Kolaborasi ini mencerminkan komitmen bersama untuk menjadikan filsafat sebagai milik publik—bukan eksklusif akademis—melalui pendekatan yang inklusif, partisipatif, dan relevan dengan kebutuhan komunitas. “Filsafat harus turun dari menara gading. Dengan berjejaring, kita bisa menciptakan ruang-ruang refleksi yang lebih hidup dan berdampak,” ungkap perwakilan mitra dalam sambutan pembuka.
Dari Refleksi Pribadi hingga Komitmen Kolektif
Diskusi kali ini diikuti oleh sekitar 25-an peserta dari berbagai kalangan, yang terlibat aktif dalam sesi tanya jawab dan refleksi berkelompok. Para peserta menyampaikan bahwa alegori gua Plato membantu mereka merefleksikan peran masing-masing dalam menyaring informasi, membangun dialog, dan berkontribusi pada transformasi sosial. Dalam catatan refleksi penutup, peserta tidak sekadar memetik pemahaman ataupun mengalirkan kesan-kesan. Peserta merasakan harapan baru bahwa pemahaman filosofis ini dapat menjadi pijakan kolektif untuk terus mengasah kepekaan kritis.
Harapannya, proses “keluar dari gua” tidak dimaknai sebagai pencapaian yang final, melainkan sebuah perjalanan berulang yang memerlukan keberanian untuk meninggalkan zona nyaman, kerendahan hati dalam mengakui keterbatasan pengetahuan, dan juga kesabaran dalam meneliti pandangan serta pengalaman yang sepertinya masih berada dalam bayang-bayang kebingungan. Lebih jauh, muncul harapan agar ruang-ruang dialog filsafat dapat terus tumbuh dan menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat, sehingga kesadaran akan pentingnya mencari kebenaran hakiki tidak berhenti di ruang diskusi, tetapi diwujudkan dalam tindakan sehari-hari. Diharapkan pula, setiap peserta dapat menjadi pembawa cahaya kecil di lingkungannya masing-masing, membangun jejaring empati, dan turut menciptakan ruang publik yang lebih reflektif, inklusif, dan berorientasi pada kebaikan bersama.
Filsafat untuk Kehidupan yang Lebih Manusiawi
Melalui Kelas Sore Filsafat ini, dosen dan pendidik Fakultas Filsafat UNPAR ini berkomitmen untuk memperluas akses publik terhadap pemikiran kritis yang berakar pada tradisi kearifan, dan sekaligus responsif terhadap tantangan zaman. Ke depan, fakultas mengundang lebih banyak mitra, komunitas, dan individu untuk bersama-sama menjadikan filsafat sebagai napas dalam membangun peradaban yang lebih adil, bijak, dan manusiawi. Mari terus berdialog, berefleksi, dan bertindak (—karena filsafat bukan hanya tentang berpikir, tetapi tentang hidup yang bermakna, ICS – Yusuf S)

