Pembekalan P3M H-4: Mahasiswa Fakultas Filsafat Belajar dari Jejak Danau Purba Bersama T. Bachtiar


FAKULTAS FILSAFAT, 2026 – Dalam rangka memperdalam pemahaman tentang relasi manusia dengan alam serta mitigasi bencana berbasis kearifan lokal, mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) mengikuti sesi pembelajaran khusus bertema “Hidup Harmoni di Cekungan Bandung” pada Selasa (28/07/2026). Kegiatan ini merupakan bagian integral dari pembekalan PPPM, di mana mahasiswa diajak untuk merefleksikan karakteristik ruang hidup mereka secara lebih utuh melalui pendekatan interdisipliner.

Sesi refleksi mendalam tersebut menghadirkan T. Bachtiar, alumni Geografi IKIP Bandung sekaligus penulis buku Peta Bandung Purba, Geotrek: Perjalanan Menafsir Bumi, dan Toponimi Kota Bandung. Melalui pemaparan berbasis data geologis dan toponimi, diskusi ini menyoroti paradoks kehidupan masyarakat urban yang tinggal di atas endapan lumpur purba namun sering kali abai terhadap tanda-tanda alam, sehingga pentingnya membangun kesadaran kebencanaan yang berakar pada pengetahuan ilmiah maupun kearifan lokal dapat dipahami secara komprehensif.

Warisan Letusan Purba dan Kerentanan Struktur Tanah

Bapak Bachtiar memaparkan bahwa dataran rendah Bandung sebenarnya adalah bekas Danau Bandung Purba. Kondisi tanah yang tampak datar dan stabil sesungguhnya adalah endapan lumpur setebal 75–100 meter. Ciri khas tinggal di atas endapan danau purba ini antara lain air tanah dangkal yang berwarna kuning (cipeureu) dan beraroma lumpur (leutak). Lebih jauh, tebalnya endapan lumpur ini menyebabkan terjadinya penguatan goyangan (amplifikasi) saat terjadi gempa bumi, sehingga risiko kerusakan bangunan menjadi lebih tinggi dibandingkan daerah dengan struktur tanah batuan.

Proses terbentuknya cekungan ini bermula dari letusan dahsyat Gunung Jayagiri sekitar 560.000–500.000 tahun lalu yang membentuk kaldera berdiameter 2 km. Dari kaldera tersebut, muncul Gunung Sunda yang meletus kembali 105.000 tahun lalu, membentuk kaldera kedua. Puncak dari aktivitas vulkanik ini adalah kelahiran generasi ketiga gunung api, yaitu Gunung Tangkuban Perahu, sekitar 90.000 tahun lalu. Gunung ini dikenal luas dalam budaya masyarakat Sunda karena dikaitkan dengan legenda Sangkuriang, kisah tentang seorang pemuda yang jatuh cinta kepada ibunya sendiri, Dayang Sumbi.

Ancaman Sesar Lembang dan Hilangnya Kecerdasan Budaya

Diskusi juga menyinggung ancaman nyata dari Sesar Lembang yang membentang di wilayah utara Bandung. Garis patahan aktif ini berpotensi memotong infrastruktur vital seperti jalan tol, gedung bertingkat, dan perumahan. Sayangnya, observasi lapangan menunjukkan bahwa banyak bangunan rumah warga tidak memiliki tulangan besi yang memadai di sudut-sudut struktur, sebuah kelalaian teknis yang berbahaya mengingat lokasi geografis mereka.

“Yang menarik dan sekaligus memprihatinkan adalah adanya pengetahuan atau value membangun rumah yang baik di masa lalu, namun penerusannya ke generasi berikutnya seringkali terputus,” ungkap Bapak Bachtiar. Ia menekankan bahwa tidak terjadi adopsi kecerdasan budaya masyarakat terdahulu yang memahami kondisi alam secara intuitif. Akibatnya, masyarakat modern cenderung mengabaikan mitigasi sederhana yang sebenarnya telah dikenal oleh leluhur mereka.

Selain faktor sesar, aktivitas antropogenik seperti pengeboran minyak dan air tanah di berbagai wilayah Jawa Barat (Balongan, Indramayu, Cirebon) turut menciptakan cekungan dalam tanah yang menyokong permukaan, menambah kerentanan terhadap amblesan tanah (land subsidence), khususnya di area yang sudah “dirobek-robek” oleh garis sesar dan patahan.

Filsafat untuk Ketangguhan Lingkungan

Kegiatan ini menegaskan pentingnya pendekatan filosofis dalam memahami bencana, bukan sekadar sebagai peristiwa alamiah semata, melainkan sebagai hasil interaksi kompleks antara dinamika geologis dan respons sosial-budaya manusia. Paparan mengenai sejarah geologi Cekungan Bandung dan ancaman Sesar Lembang menjadi bekal fundamental bagi mahasiswa untuk membangun disaster awareness atau kesadaran kebencanaan yang utuh. Pemahaman ini melampaui aspek teknis mitigasi; ia menyentuh dimensi etis tentang tanggung jawab manusia terhadap ruang hidup yang ditempati, serta urgensi merevitalisasi kearifan lokal yang sempat terputus antargenerasi.

Lebih jauh, kegiatan pembelajaran lapangan ini merupakan manifestasi nyata dari komitmen Fakultas Filsafat UNPAR dalam menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi, melalui aktivitas akademis terintegratif, yaitu Pendidikan, Pelatihan, dan Pengabdian Masyarakat (P3M). Melalui integrasi materi perkuliahan (Pendidikan), pendalaman kompetensi analisis risiko berbasis filsafat sains (Pelatihan), serta keterlibatan langsung bersama praktisi dan komunitas (Pengabdian Masyarakat), fakultas berupaya mencetak lulusan yang tidak hanya kritis secara teoritis, tetapi juga tanggap dan berkontribusi solutif bagi masyarakat sekitar. Harapannya, pemahaman mendalam tentang kondisi alam Cekungan Bandung—dari letusan purba hingga kerentanan tanah saat ini—dapat menjadi landasan bagi mahasiswa untuk merumuskan gagasan mitigasi yang humanis, berkelanjutan, dan berakar pada realitas sosial budaya setempat (ICS – Yusuf S).