Mahasiswa MKU Estetika UNPAR Dalami Pengalaman Estetis Melalui Kuliah Lapangan di Pameran Seni ACT MOVE

FAKULTAS FILSAFAT, 2026 Mahasiswa Mata Kuliah Umum (MKU) Estetika Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) mengikuti kuliah lapangan di Pameran Seni ACT MOVE yang diselenggarakan di Orbital Dago Gallery, Selasa (4/8/2026). Kegiatan yang dipandu oleh dosen pengampu MKU Estetika, Yustinus Ardhitya, S.T., M.Sn., ini merupakan bagian dari pembelajaran kontekstual yang mengajak mahasiswa memahami estetika melalui pengalaman langsung mengamati karya seni kontemporer, berdialog dengan pelaku seni, serta merefleksikan relasi antara karya, ruang, dan pengalaman manusia.

Kuliah lapangan dilaksanakan dalam tiga sesi yang diikuti oleh Kelas F (56 mahasiswa), Kelas FB (51 mahasiswa), dan Kelas FC (49 mahasiswa). Setiap sesi berlangsung selama 90 menit yang terdiri atas 60 menit pengamatan, pencatatan, dan dokumentasi ruang beserta karya seni, kemudian dilanjutkan dengan 30 menit presentasi, diskusi, dan tanya jawab. Pada sesi terakhir, mahasiswa memperoleh kesempatan berdialog secara langsung dengan seniman Arman Jamparing dan Iyay AIMAER.

Menghayati Estetika Melalui Pengalaman Langsung

Berbeda dengan pembelajaran di ruang kelas, kuliah lapangan ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengalami secara langsung bagaimana sebuah karya seni hadir dalam ruang pamer, membangun interaksi dengan pengunjung, sekaligus membuka berbagai kemungkinan penafsiran. Mahasiswa tidak hanya mengamati aspek visual karya, tetapi juga memperhatikan tata ruang, pencahayaan, komposisi, dan atmosfer pameran yang turut membentuk pengalaman estetis.

Melalui proses observasi tersebut, mahasiswa didorong untuk mencatat hasil pengamatan, mendokumentasikan karya, serta mengembangkan refleksi kritis mengenai makna estetika dalam praktik seni kontemporer. Pendekatan ini memperkuat pemahaman bahwa pengalaman estetis tidak semata-mata berkaitan dengan keindahan visual, tetapi juga melibatkan dimensi interpretasi, dialog, dan pengalaman eksistensial manusia.

Dialog Bersama Praktisi Seni

Sesi dialog bersama Arman Jamparing dan Iyay AIMAER menjadi salah satu bagian yang paling dinantikan. Dalam kesempatan tersebut, kedua narasumber membagikan pengalaman kreatif, proses penciptaan karya, serta pandangan mereka mengenai perkembangan seni rupa kontemporer. Mahasiswa secara aktif mengajukan pertanyaan mengenai konsep artistik, teknik berkarya, hingga relasi antara seni, masyarakat, dan kehidupan sehari-hari.

Interaksi langsung dengan para seniman memberikan pengalaman belajar yang melengkapi pemahaman teoretis yang diperoleh di kelas. Mahasiswa diajak melihat bahwa karya seni bukan sekadar objek visual, melainkan media refleksi yang mengandung gagasan, kritik, serta respons terhadap berbagai dinamika sosial dan budaya.

Pendopo Galeri Menjadi Ruang Refleksi Akademik

Kegiatan presentasi dan diskusi berlangsung di pendopo Orbital Dago Gallery setelah penyelenggara memperoleh izin khusus dari Rifky Effendy yang juga dikenal dengan nama Mas Goro, selaku pemilik sekaligus kurator galeri. Pemanfaatan ruang tersebut menciptakan suasana diskusi yang terbuka, nyaman, dan kondusif sehingga mahasiswa dapat mempresentasikan hasil pengamatan sekaligus mendiskusikan berbagai perspektif mengenai karya-karya yang dipamerkan.

Suasana dialog yang berlangsung di lingkungan galeri semakin memperkaya proses pembelajaran karena mahasiswa dapat langsung menghubungkan konsep-konsep estetika dengan pengalaman empiris yang baru mereka alami.

Membangun Kepekaan Estetis dan Daya Reflektif

Kuliah lapangan ini menunjukkan komitmen pembelajaran MKU Estetika UNPAR dalam menghadirkan proses belajar yang kontekstual, partisipatif, dan berbasis pengalaman. Mahasiswa tidak hanya mempelajari teori-teori estetika, tetapi juga mengembangkan kemampuan observasi, berpikir kritis, berdialog, serta mengapresiasi karya seni sebagai bagian dari refleksi filosofis mengenai manusia dan kehidupannya.

Melalui kegiatan ini, Fakultas Filsafat terus mendorong terciptanya pembelajaran yang menghubungkan teori dengan pengalaman nyata sehingga mahasiswa mampu memandang estetika sebagai pengalaman yang hidup, terbuka terhadap berbagai penafsiran, dan relevan dalam membangun kepekaan terhadap manusia, budaya, serta kehidupan bersama (ICS – Yusuf S)