Menelusuri Jejak Ratna Asmara Melalui Nobar dan Diskusi Film Dr. Samsi

Bersama Labtek Indie, Kelas Liarsip, Knods Playground, Sembilan Matahari, dan Bandung Film Commission, Integrated Arts UNPAR dan Sinesofia UNPAR telah melaksanakan kegiatan Nonton Bareng (Nobar) dan Diskusi Film Dr. Samsi, karya Ratna Asmara, sutradara perempuan pertama di Indonesia. Film Dr. Samsi yang ditayangkan merupakan versi yang telah didigitalisasi dan sedang dalam proses restorasi oleh Kelas Liarsip. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 3 Mei 2025, di Auditorium Sinesofia, Fakultas Filsafat UNPAR.

Dr. Samsi merupakan film ketiga karya Ratna Asmara, atau Suratna, sosok yang tercatat sebagai sutradara perempuan pertama di Indonesia. Film ini dipilih untuk direstorasi dan didigitalisasi oleh Kelas Liarsip karena kondisi arsipnya dinilai paling memungkinkan untuk dipulihkan. Ketertarikan Kelas Liarsip terhadap sosok Ratna Asmara dilatarbelakangi oleh rasa penasaran terhadap peran perempuan dalam industri perfilman Indonesia yang selama ini lebih banyak terlihat di depan layar daripada di balik layar.

Kegiatan Nobar dan Diskusi Film ini dihadiri oleh mahasiswa UNPAR, komunitas dan kelompok kolektif di Bandung, serta peserta umum, dengan jumlah sekitar 28 orang. Sesi diskusi berlangsung secara terbuka dan santai dengan tajuk “Bagaimana Film Ini Relevan Untukmu?” Dipandu oleh Amanda Mitha dari Labtek Indie, diskusi tersebut juga menghadirkan Julita Pratiwi dari Kelas Liarsip, Ariani Darmawan dari Kineruku, dan Gorivana Ageza dari Integrated Arts dan Sinesofia UNPAR sebagai penanggap. Sesi diskusi berlangsung dengan partisipasi aktif para peserta yang berdialog satu sama lain maupun dengan para penanggap.

Diskusi banyak membahas sejarah dan perjalanan hidup Ratna Asmara. Selain itu, dipaparkan pula proses digitalisasi dan restorasi film serta kondisi pengarsipan film di Indonesia. Beberapa peserta mempertanyakan alasan mengapa sejarah dan pengarsipan film menjadi sesuatu yang penting, terutama di tengah keterbatasan pendanaan dan minimnya perhatian pemerintah terhadap upaya pelestarian tersebut. Para penanggap dan peserta juga membagikan pengalaman serta rasa apresiasi yang mereka rasakan setelah menonton film dan mendengar kisah perjalanan Ratna Asmara dalam industri perfilman Indonesia.

Setelah sesi diskusi berakhir, banyak peserta tetap beramah tamah dan melanjutkan perbincangan mengenai film Dr. Samsi serta kisah hidup Ratna Asmara. Berbagai pertanyaan yang belum terjawab dalam sesi resmi kemudian didiskusikan kembali, dengan para peserta dan penanggap saling bertukar pandangan melalui berbagai spekulasi maupun asumsi yang berkembang. Meskipun diskusi telah resmi ditutup, antusiasme dan rasa penasaran peserta masih terus terasa. Para panitia pun terus bertukar pandangan mengenai film, proses restorasi, serta kisah hidup Ratna Asmara. Suasana diskusi informal ini berlanjut hingga larut malam dan semakin hangat dengan kehadiran Ersya Ruswandono, sutradara film Merangkai Ratna Asmara.

Rangkaian kegiatan tidak berhenti pada Nobar dan Diskusi Film. Kegiatan berlanjut pada Minggu, 4 Mei 2025, di Labtek Indie dengan pemutaran film dokumenter Merangkai Ratna Asmara, yaitu film yang mendokumentasikan penelitian mengenai Ratna Asmara serta proses restorasi film yang dilakukan oleh Kelas Liarsip (Manuella Princessa).