Pemutaran Perdana Sinesofia Mengangkat Tema “Hyperstition”: Menggali Realitas Manusia dan Identitas melalui Film Midsommar

“Apa yang akan terjadi jika realita tersebut menanggapi dan menciptakan ulang manusianya?”

Pertanyaan tersebut tertulis dalam laman Instagram Sinesofia dan menjadi benang merah yang akan dikulik sepanjang rangkaian program Sinesofia kali ini.

Melihat dinamika antara manusia dan realitas, Sinesofia kembali melaksanakan pemutaran dan diskusi film secara rutin selama bulan September hingga Desember. Mengangkat tema besar “Hyperstition”, Sinesofia mencoba mendefinisikan kembali manusia sebagai sosok yang imajinatif dan kreatif.

Pemutaran film dilaksanakan setiap hari Rabu pukul 18.30 WIB di Auditorium Sinesofia, Gedung 6, Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR). Sebagai pembuka, Sinesofia memutar film box office karya Ari Aster, Midsommar (2019).

Sedikit berbeda dari rangkaian sebelumnya, program Sinesofia kali ini diramaikan dengan listening party yang diberi nama Sonosofia. Melalui program ini, sebelum film diputar, para hadirin disuguhkan playlist yang telah dikurasi dari berbagai genre sebagai pengantar untuk memasuki ruang sinema Sinesofia melalui pengalaman bunyi.

Pada pekan ini, lagu-lagu The Beatles, seperti Blue Jay Way dan Strawberry Fields Forever, turut menyambut dan menemani para audiens sembari menunggu pemutaran film dimulai. Selain itu, beberapa lagu dari The Caretaker, Chelsea Wolfe, Daughters, dan Dead Can Dance juga diperdengarkan selama sekitar 30 menit sebelum pemutaran film dimulai.

“Tadi itu playlist-nya dibuat sebagai pengantar worldview-nya Midsommar. Jadi saya sama Kenar mencoba menangkap kesan-kesan yang kami temukan selama menonton Midsommar, lalu mengkurasi lagu-lagu yang setidaknya secara rasa bisa menangkap kesan-kesan tersebut,” jelas Ramones, salah satu anggota Sinesofia yang mengkurasi film dan playlist pada pemutaran minggu ini.

Pemutaran film ini dihadiri oleh mahasiswa UNPAR, baik dari Fakultas Filsafat maupun fakultas lain, serta masyarakat umum dari berbagai kalangan usia. Setelah pemutaran film, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan sesi foto bersama.

Diskusi dipandu oleh Ryan dan Ramones, anggota Sinesofia sekaligus mahasiswa Program Studi Humanitas, Fakultas Filsafat.

Midsommar bercerita tentang sepasang kekasih yang berlibur ke kampung halaman teman mereka di Swedia untuk menghadiri sebuah festival musiman. Di sana, mereka berhadapan dengan sebuah komunitas yang mengajak mereka untuk “meninggalkan dunia.”

Merespons film tersebut sesuai dengan tema yang diangkat, para peserta antusias menyampaikan pandangan mereka mengenai realitas manusia dan identitas diri. Diskusi berlangsung intens dan mendorong audiens untuk menelaah baik substansi maupun teknik penceritaan yang digunakan dalam film.

Taufik, salah seorang penonton, menyampaikan pendapatnya, “Midsommar ini bikin saya merasa kalau pengkaryaan itu tidak harus dilakukan berdasarkan aturan.”

Ia menambahkan, “Yang tidak jelas seperti di Midsommar memang disengaja. Mungkin tujuan pembuatnya bukan supaya dipahami semua orang, tetapi justru untuk menuangkan pikiran liarnya. Itu sekaligus membantah anggapan bahwa film yang baik harus selalu mudah dipahami. Ada karya yang memang tidak perlu disampaikan secara gamblang karena memang itulah tujuannya.”

Sementara itu, Abyan, salah satu audiens, berpendapat, “Saya rasa filmmaker Midsommar sedang bereksperimen, mencoba membayangkan bagaimana jika citra keterbelakangan disematkan pada sebuah negara yang sebenarnya sudah sangat industrial seperti negara-negara Nordik. Jadi, ada upaya menyematkan citra backwardness kepada Swedia.”

Melihat antusiasme audiens yang hadir, Arga, Koordinator Program Sinesofia, menyampaikan kesannya, “Sejauh ini, ini pemutaran Sinesofia yang paling ramai.”

Pemutaran film yang dilakukan selalu didasarkan pada tema yang dipilih oleh Sinesofia tanpa mengabaikan signifikansi maupun daya tarik film-film yang diputar. Beberapa merupakan film referensi, sementara sebagian lainnya adalah film populer. Secara keseluruhan terdapat sebelas film yang akan diputar hingga 10 Desember 2025, yaitu Playtime (1967), Colorful (2010), Belle de Jour (1967), Videodrome (1983), The Gesuidouz (2024), Requiem for a Dream (2000), All About Lily Chou-Chou (2001), Casablanca (1942), Fiksi (2008), dan Chinatown (1974).

Sinesofia mengundang siapa pun yang tertarik untuk mengikuti pemutaran film dan diskusi yang diselenggarakan. Tidak ada batasan bagi peserta yang ingin hadir dan terlibat dalam setiap rangkaian kegiatan  (Manuella Princessa).